Sebuah karya mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Grobogan dalam lomba Film Konten Literasi yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Daerah Grobogan.
Aroma Kertas & Espresso bukan hanya tentang buku dan kopi. Film ini mencoba membahas bagaimana peradaban manusia dalam membaca terus berubah.
Hari ini, membaca tidak harus selalu identik dengan ruang perpustakaan yang sunyi, rak-rak buku, dan suasana yang kaku. Membaca bisa hadir di ruang yang lebih dekat dengan kehidupan generasi sekarang—salah satunya coffee shop.
☕📖Bayangkan coffee shop bukan sekadar tempat nongkrong, tapi juga menjadi ruang literasi: tempat membaca, berdiskusi, menyebarkan ide, dan melahirkan kreativitas.
Oleh karena itu, karya ini juga menjadi sebuah kritik kecil terhadap cara kita memandang perpustakaan dan literasi.
Perpustakaan tidak seharusnya hanya menjadi tempat menyimpan buku. Ia harus menjadi tempat tumbuhnya gagasan. Dan untuk itu, perpustakaan perlu lebih terbuka terhadap perubahan zaman, teknologi, budaya, serta kebiasaan generasi baru.
Kalau masyarakat mulai membaca di kedai kopi, mengapa perpustakaan tidak ikut masuk ke ruang-ruang tersebut?
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya, “Bagaimana membuat generasi sekarang datang ke perpustakaan?”
Dan mulai bertanya:
“Bagaimana perpustakaan bisa hadir di tengah kehidupan generasi sekarang?”
Aroma Kertas & Espresso adalah sebuah gagasan sederhana: membawa aroma buku ke dalam budaya kopi, dan membawa budaya membaca ke dalam peradaban baru.
Semoga kedepannya semakin banyak kedai kopi di Grobogan, bahkan Indonesia, yang berani mengkolaborasikan kopi, buku, diskusi, dan literasi.☕📚